Selasa, 10 April 2012


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap manusia mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri. Koentjaraningrat (2005) mengemukakan bahwa kebudayaan sedikitnya mempunyai tiga wujud, yaitu : wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma, dan peraturan-peraturan, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Manusia dalam menghadapi lingkungan senantiasa menggunakan berbagai model tingkah laku yang selektif (selected behaviour) sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Pola perilaku tersebut didasarkan pada sistem kebudayaan yang diperoleh dan dikembangkan serta diwariskan secara turun temurun.

 Pewarisan kebudayaan adalah proses pemindahan, penerusan, pemilikan dan pemakaian kebudayaan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan. Pewarisan budaya bersifat vertikal artinya budaya diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya untuk digunakan, dan selanjutnya diteruskan kepada generasi yang akan datang.

Melihat bahwa konsep sehat itu sendiri dapat dilihat dari segi sosial, yaitu berkaitan dengan kesehatan pada tingkat individual yang terjadi karena kondisi-kondisi sosial, politik, ekonomi, serta budaya yang melingkupi individu tersebut. Untuk sebuah kesehatan masyarakat menciptakan sebuah strategi adaptasi baru dalam menghadapi penyakit. Strategi yang memaksa manusia untuk menaruh perhatian utama pada pencegahan dan pengobatan penyakit. Dalam usahanya untuk menanggulangi penyakit, manusia telah mengembangkan “suatu kompleks luas dari pengetahuan, kepercayaan, teknik, peran, norma-norma, nilai-nilai, idiologi, sikap, adat-istiadat, upacara-upacara dan lambang-lambang yang saling berkaitan dan membentuk suatu sistem yang saling menguatkan dan saling membantu (Anderson, 1980, dalam Badrujaman, 2008).

Maka dalam makalah ini akan dibahas tentang hubungan antara ilmu social budaya dengan kesehatan yang berguna untuk lebih mengetahui dan memahami hubungan diantara keduanya.




1.2 Tujuan Penyusunan Makalah

1.     Untuk Memenuhi tugas individu mata kuliah Ilmu Sosial Budaya
2.     Untuk lebih memahami hubungan antara ilmu social budaya dengan kesehatan
3.     Untuk Menambah pengetahuan tentang hubungan antara ilmu social budaya dan kesehatan dengan sebuah kasus yang terjadi dimasyarakat saat ini.




































BAB II
PEMBAHASAN



A.  Hubungan Ilmu Sosial Budaya Dengan Kesehatan

Kata “kebudayaan” berasal dari (bahasa sansekerta) buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Menurut E.B Tylor mendefinisikan kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan mencakup semuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif. Artinya mencakup segala cara-cara atau pola-pola berpikir, merasakan, dan bertindak (Soekanto, 2006).
Setiap manusia mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri. Koentjaraningrat (2005) mengemukakan bahwa kebudayaan sedikitnya mempunyai tiga wujud, yaitu : wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma, dan peraturan-peraturan, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Pola perilaku kebudayaan itu sendiri didasarkan pada sistem kebudayaa n yang diperoleh dan dikembangkan serta diwariskan secara turun temurun.
Pewarisan kebudayaan adalah proses pemindahan, penerusan, pemilikan dan pemakaian kebudayaan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan. Pewarisan budaya bersifat vertikal artinya budaya diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya untuk digunakan, dan selanjutnya diteruskan kepada generasi yang akan datang.
 Pewarisan kebudayaan dapat dilakukan melalui enkulturasi dan sosialisasi. Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses mempelajari dan menyesuaikan pikiran dan sikap individu dengan sistem nilai, norma, adat, dan peraturan hidup dalam kebudayaannya. Proses enkulturasi dimulai sejak dini, yaitu masa kanak-kanak, bermula dilingkungan keluarga, teman sepermainan, dan masyarakat luas (Herimanto dan Winarno, 2008).
Perilaku kesehatan seseorang sangat berkaitan dengan pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma dalam lingkungan sosialnya, berkaitan dengan terapi, pencegahan penyakit (fisik, psikis, dan sosial) berdasarkan kebudayaan masing-masing (Dumatubun, 2002). Selain dengan pengamalan perilaku dalam konteks budaya, pengamalan perilaku setiap individu sangat erat kaitannya dengan “belief, kepercayaan” sebagai bagian nilai budaya masyarakat bersangkutan (Ngatimin, 2005)
Nilai-nilai sosial budaya memiliki arti penting bagi manusia dan masyarakat penganutnya. Didalamnya tercakup segala sesuatu yang mengatur hidup mereka termasuk tatacara mencari pengobatan bila sakit. Kekurangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu kesehatan disertai pengalaman hidup sehari-hari yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya membuat mereka mencari pemecahan timbulnya penyakit, penyebaran dan cara pengobatan menuju ke arah percaya akan adanya pengaruh roh halus dan tahyul.

Perilaku manusia dalam menghadapi masalah kesehatan merupakan suatu tingkah laku yang selektif, terencana, dan tanda dalam suatu sistem kesehatan yang merupakan bagian dari budaya masyarakat yang bersangkutan. Perilaku tersebut terpola dalam kehidupan nilai sosial budaya yang ditujukan bagi masyarakat tersebut. Perilaku merupakan tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan sekelompok orang untuk kepentingan atau pemenuhan kebutuhan tertentu berdasarkan pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma kelompok yang bersangkutan. Kebudayaan kesehatan masyarakat membentuk, mengatur, dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial dalam memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan baik yang berupa upaya mencegah penyakit maupun menyembuhkan diri dari penyakit (Kalangi, 1994). Oleh karena itu dalam memahami suatu masalah perilaku kesehatan harus dilihat dalam hubungannya dengan kebudayaan, organisasi sosial, dan kepribadian individu-individunya.

B.  Contoh Kasus Sosial Budaya Yang Berhubungan Dengan Kesehatan

-       KASUS SOSIAL BUDAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN BAYI

            Kesehatan anak sekarang ini sangan memprihatinkan. Banyak sekali kasus anak-anak yang terkena penyakit tertentu karena tidak tercukupi kebutuhan gizinya. Seperti banyak anak-anak di pelosok desa yang orangtuanya hanya sekedar memberi kebutuhan gizi sekedarnya saja pada anak mereka. Terutama mitos mengenai kesehatan anak, orang zaman dahulu mempercayai bahwa jika melakukan sesuatu yang telah lama dilakukan oleh pendahulunya maka mereka juga akan melakukan itu pada anak-anak mereka. Padahal ini malah akan menjadi penghambat kesehatan anak. Sehingga anak mudah sekali terserang penyakit.



 Beberapa aspek budaya (mitos) yang berkembang di masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan anak :

1.  Jika rambut anak anda basah maka anak anda akan masuk angin.

          Seorang Pakar Kesehatan Jims Scars mengatakan dari riset yang pernah dilakukannya di Inggris dimana setengah kelompok anak dibiarkan berada dalam ruangan hangat sedangkan sisanya berada di lorong dengan kondisi basah kuyup. Setelah beberapa jam, kelompok yang berada di lorong tadi tidak mengalami flu. " Kedinginan belum tentu mempengaruhi sistem kekebalan tubuh secara langsung".

2.   Anak perlu makan ketika kedinginan dan meminum banyak air ketika demam

Hal yang seharusnya dilakukan adalah menjaga keseimbangan komposisi cairan tubuh . Jika seseorang banyak cairan maka akan mudah terserang penyakit begitupun sebaliknya.Meskipun demikian anak tidak perlu mengonsumsi minuman elektrolit bila tidak mengalami dehidrasi ataupun diare.
3.     Anak akan kehilangan 75% panas melalui kepala

 Mitos ini berkembang karena keharusan bahwa kepala bayi yang baru lahir ditutupi ketika cuaca dingin ataupun panas. Hal tersebut dibenarkan karena kepala bayi memiliki presentasi lebih besar daripada bagian tubuh yang lainnya. Tetapi saat beranjak dewasa , keluarnya panas melalui kepala hanya10%, sisanya keluar melalui kaki, lengan , dan tangan.



4.     Makanan yang keluar dari mulut ibu yang terbaik bagi bayi

 Suku Sasak di Lombok, para ibu nifas biasa memberikan nasi pakpak (nasi yang telah dikunyah oleh ibunya terlebih dahulu ) kepada bayinya agar bayinya tumbuh sehat dan kuat . Mereka percaya bahwa apa yang keluar dari mulut ibu merupakan yang terbaik untuk bayi.









C.  ANALISIS

Dari beberapa kasus yang berhubungan dengan kesehatan pada anak di atas dapat disimpulkan bahwa di dalam masyarakat saat ini masih banyak kebudayaan-kebudayaan(mitos) yang masih terus dipertahankan dan terus diwariskan kepada keturunanya,padahal sudah banyak pakar-pakar yang meneliti kebiasaan itu sangat tidak baik bagi kesehatan kita pada umumnya dan anak sendiri khususnya.

Kebudayaan-kebudayan itu terus menerus diwariskan kepada keturunanya disebabkan kurangnya sosialisasi kesehatan yang berhubungan dengan kebudayaan mereka itu,serta masih susahnya masyarakat menerima dan meninggalkan kebiasaan itu membuat kita sebagai petugas kesehatan menjadi perlu untuk lebih memahami kebudayaan yang mereka percaya sehingga kita akan semakin mudah untuk menyadarkan masyarakat bahwa kebiasaan mereka itu tidaklah bagus untuk kesehatan.

Dari kasus yang meyakini bahwa jika rambut anak basah maka sianak akan masuk angin,bisa di simpulkan kalau kebiasaan ini sudah tertanam di masyarakat jadi jika anak yang baru lahir rambut sianak tidak boleh dibasahi maka akan membuat si bayi masuk angin,padahal sudah ada pakar kesehatan yang meneliti kasus ini namun masih kurang disosialisasikan kepada masyarakat sehingga sampai sekarang kebiasaan itu masih di anut oleh masyarakat khusunya di daerah terpencil yang jarang terjamah oleh para petugas kesehatan.
Begitu juga kasus pada suku sas ak dilombok yang meyakini bahwa ibu memberi nasi yang telah dikunyah oleh ibunya terlebih dahulu baru diberi kepada anaknya merupakan kebiasaan yang tidak baik bagi kesehatan sianak,kita mengetahui bahwa dalam air ludah itu banyak mengandung bakteri atau kuman yang membuat kesehatan terganggu.
Dengan begitu sebagai calon petugas kesehatan sewajarnya dan sebaiknya kita mengetahui kebiasaan-kebiasan buruk yang terdapat di masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan pada masyarakat itu sendiri,sehingga kita bisa membuat cara penganan yang dpat di sosialisasikan kepada masyarakat hingg masyarakat akan sadar akan yang mereka yakini selama ini merupakan hal yang dapat mengganggu kesehatan mereka.


KESIMPULAN
DAN SARAN

A.  Kesimpulan

Setiap manusia mempunyai kebudayaannya masing-masing,yang dalam menghadapi lingkungan senantiasa menggunakan berbagai model tingkah laku yang selekti ( selected behavioral) sesuai dengan tantangan yang dihadapi.Kebudayaan yang memiliki system kebudayaan yang diperoleh dan dikembangkan serta diwarisakan secara turun temurun.Kebudayaan diwariskan secara vertical yakni budaya diwarisakan dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya untuk digunakan,dan selanjutnya diteruskan ke generasi berikutnya. Sedangkan Konsep sehat itu dapat dilihat dari segi sosial, yaitu berkaitan dengan kesehatan pada tingkat individual yang terjadi karena kondisi-kondisi sosial, politik, ekonomi, serta budaya yang melingkupi individu tersebut. Perilaku kesehatan seseorang sanga t berkaitan dengan pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma dalam lingkungan sosialnya, berkaitan dengan terapi, pencegahan penyakit (fisik, psikis, dan sosial) berdasarkan kebudayaan masing-masing (Dumatubun, 2002).Maka dari itu kita sebagai petugas kesehatan harus selalu siap dalam membantu masyarakat dalam memperoleh pengetahuan-pengetahuan kesehatan yang berkaitan dengan kebudayaan pada suatu masyarakat,agar kehidupan yang kita inginkan bisa dimiliki oleh kita semua.

B.  Saran

Sebaiknya sebagai seorang yang akan menjadi bagian dari petugas kesehatan,kita sudah mulai mengetahui cara mengatasi suatu masalah yang berhubungan dengan kebudayaan-kebudayaan seorang pasien,serta mampu dalam mencari cara untuk masalah-masalah yang ada pada masyarakat yang sudah barang tentu masalah tersebut berkaitan dengan masalah social budaya dan kesehatan
DAFTAR PUSTAKA


http://tatikbahar.blogspot.com/2011/02/hubungan-aspek-sosial-budaya-dan.html
http://catatancalonbidan.multiply.com/journal/item/6/Aspek_Sosial_Budaya_Dalam_Pembangunan_Kesehatan
http://yohanamarina.blogspot.com/2010/11/aspek-sosial-budaya-berkaitan-dengan.html

EFUSI PLEURA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Pleura adalah membran tipis yang terdiri dari dua lapisan yaitu pleura viseralis dan pleura parietalis. Kedua lapisan ini bersatu di daerah hilus arteri dan mengadakan penetrasi dengan cabang utama bronkus, arteri dan vena bronkealis, serabut saraf dan pembuluh limfe secara histologis kedua lapisan ini terdiri atas sel mesotelial, jaringan ikat, pembuluh kapiler dan pembuluh getah bening.
            Pleura sering kali mengalami kelainan patogenesis seperti terjadinya efusi cairan misalnya hidrotoraks dan pleuritis eksudativa karena infeksi, hemotoraks bila rongga pleura berisi darah, kilotoraks(cairan limfe), piotoraks atau empiema torasis bila berisi nanah dan pneumotorak bila berisi darah. Penyebab kelainan patologi pleura bermacam-macam terutama karena infeksi tuberkulosis atau non tuberkulosis, keganasan dan trauma (Suyono Slamet, 2001)

1.2  Tujuan
            Adapun tujuan pembuatan makalah ini untuk memenuhi tugas kelompok dan menyelesaikan pembahasan tentang efusi pleura sesuai dengan silabus mata kuliah sistem respirasi.













BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Defenisi
            Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dalam pleura berupa transudat atau eksudat yang diakibatkan terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan absorbsi di kapiler dan pleura viseralis.
            Efusi pleura merupakan salah satu kelainan yang mengganggu sitem pernafasan. Efusi pleura bukanlah diagnosis suatu penyakit, melainkan hanya merupakan gejala atau komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura, jika kondisi ini dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (Muttaqin Arif, 2008)

2.2 Anatomi Dan Fisiologi
            Dari segi anatomis, permukaan rongga pleura berbatasan dengan paru sehingga cairan pleura mudah bergerak dari satu rongga ke rongga lainya. Dalam keadaan normal seharusnya tidak ada rongga kosong diantara kedua pleura, karena biasanya hanya terdapat sekitar 10-20 cc cairan yang merupakan lapisan tipis serosa yang selalu bergerak secara teratur. Setiap saat, jumlah cairan dalam rongga pleura bisa menjadi lebih dari cukup untuk memisahkan kedua pleura. Jika terjadi, maka kelebihan tersebut akan dipompa keluar oleh pembuluh limfatik (yang membuka secara langsung) dari rongga pleura ke mediatinum. Permukaan superior diafragma dan permukaan lateral pleura parietalis, memerlukan adanya keseimbangan antara produksi cairan pleura oleh pleura parietalis dan absorbsi oleh pleura viseralis. Oleh karena itu, rongga pleura disebut sebagai ruang potensial, karena ruang ini normalnya begitu sempit, sehingga bukan merupakan ruang fisik yang jelas (Guyton dan Hall, 1997)

2.3 Etiologi
            Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura dibagi lagi menjadi transudat, eksudat, dan hemoragi (Muttaqin Arif, 2008)
1.      Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal jantung kiri), sindrom nefrotik, asites (oleh karena sirosis hepatis), sindrom vena kava superior, tumor, dan sindrom meigs.
2.      Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB, pneumonia, tumor, infark paru, radiasi, dan penyakit kolagen.
3.      Efusi hemoragi dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infark paru, dan tuberkulosis.
Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, efusi dibagi menjadi unilateral dan bilateral. Efusi unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan penyakit penyebabnya akan tetapi efusi bilateral ditemukan pada penyakit kegagalan jantung kongestif, sindrom nefrotik, asites, infark paru, lupus eritamatosus sistemis, tumor dan tuberkulosis.

2.4 Patofisiologi
            Normalnya hanya terdapat 10-20 ml cairan dalam rongga pleura. Jumlah cairan di rongga pleura tetap, karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cmH2O. Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun (misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses peradangan atau neoplasma, bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung) dan tekanan negatif intrapleura apabila terjadi atelektasis paru (Alsagaf, 1995 dalam Muttaqin Arif, 2008)
            Efusi pleura berarti terjadi penumpukan sejumlah besar caairan bebas dan kavum pleura. Kemungkinan prose akumulasi cairan di rongga pleura terjadi akibat beberapa proses yang meliputi (Guyton dan Hall, 1997):
1.      Adanya hambatan drainase limfatik dari rongga pleura .
2.      Gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekana perifer menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang berlebihan kedalam rongga pleura.
3.      Menurunnya tekanan osmotik koloid plasma juga memungkinkan terjadinya transudasi cairan yang berlebihan.
4.      Adanya proses infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura dapat menyebabkan pecahnya membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma cairan kedalam rongga secara cepat.
Infeksi pada tuberkulosis paru disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang masuk melalui saluran pernafasan menuju alveoli, sehingga terjadilah infeksi primer. Dari infeksi primer ini, akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal)  dan juga diikuti dengan pembesaran kelenjar getah bening hilus (loimfangitis regional).
Peradangan pada saluran getah bening akan mempengaruhi permeabilitas membran. permeabilitas membran akan meningkat dan ahirnya menimbulkan akumulasi cairan dalam rongga pleura. Kebanyakan terjadionya efulsi pleura akibat dari tuborkolosis paru melalui fokus subflura yang robek atau melalui aliran getah bening. Sebab lain dapat juga diakibatkan dari robeknya perkijuan kearah salaruan getah bening yang menuju rongga pleura, iga, atau kolumna vertebralis.
Adapun bentuk cairan efusi akibat tuberkolosis paru adalah eksudat yang berisi protein dan terdapat pada cairan pleura akibat kegagalan aliran protein getah bening. Cairan ini biasanya seruosa, namun kadang-kadang bisa juga hemarogi (Muttaqin Arif, 2008)

2.5 Manifestasi klinis
-          Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas.
-          Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat, batuk, banyak riak.
-          Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan.

-          Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).
-          Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
-          Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

2.6  Diagnosa
1.      Anamnesis: adanya keluhan nyeri dada dan dispnea.
2.      Pemeriksaan fisik: pada daerah efusi, fremitus tidak ada, perkusi redup, suara nafas berkurang.
3.      Pemeriksaan laboraturium: analisis cairan efusi yang di ambil lewat torakosentesis. Kriteria transudat dan eksudat dapat dilihat dari tabel dibawah ini:
4.      Pemeriksaan radiologi
Dalam foto toraks terlihat hilangnya sudut kostofrenikus dan akan terlihat permukaan permukaan yang melengkung jika jumlah cairan efusi lebih dari 300 ml, pergeseran mediastinum kadang ditemukan.


2.7 Pemeriksaan fisik
Infeksi dan fibrosa paru
Tabel perbedaan transudat dan eksudat

Transudat
Eksudat
Kadar protein dalam efusi (g/dl)
Kadar protein dalam efusi
< 3
< 0,5
> 3
> 0,5
Kadar protein dalam serum
Kadar LDH dalam efusi (IU)
Kadar LDH dalam efusi

< 200
< 0,6

>200
>0,6
Kadar LDH dalam serum
Berat jenis cairan efusi
Hasil tes rivalta

< 1,016
Negatif

>1,016
Positif

Sinar x dada: menyatakan akumulasi udara atau cairan pada area pleural dapat menunjukan penyimpangan struktur mediastinal (jantung)
GDA: variabel tergantung derajat fungsi paru yang di pengaruhi gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. PaCo2 kadang – kadang meningkat, PaO2 mungkin normal ataupun menurun.
Torasentesis : menyatakan darah atau cairan serosanguinosa (hemotorax).
Hb : menurun, menunjukkan kehilangan darah.


Inspeksi
            Peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan yang disertai penggunaan otot bantu pernafasan. Gerakan pernafasan ekspansi dada yang asimetris (pergerakan dada tertinggal pada sisi yang sakit), iga melebar, rongga dada asimetris (cembung pada sisi yang sakit). Pengkajian batuk yang produksi dengan sputum purulen.
Palpasi
            Pendorongan mediastinum ke arah hemithoraks kontralateral yang diketahui dari posisi trakhea dan ictus cordis. Taktil fremitus menurun terutama untuk efusi pleura yang jumlah cairanya >300 cc. Di samping itu, pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit.
Perkusi
            Suara perkusi redup hingga pekak tergantung dari jumlah cairannya.
Auskultasi
            Suara napas menurun sampai menghilang pada sisi yang sakit. Pada posisi duduk, cairan semakin keatas semakin tipis.
2.8 Penatalaksanaan medis
            Pengelolaan efusi pleura ditujukan untuk pengobatan penyakit dasar dan pengosongan cairan (thorakosentesis) indikasi untuk melalukan thorakosentesis adalah:
a.       Menghilangkan sesak nafas yang disebabkan oleh akumulasi cairan dalam rongga pleura.
b.      Bila terapi spesifik pada penyakit primer tidak efektif atau gagal.
c.       Bila terjadi reakumulasi cairan.
Pengambilan pertama cairan pleura tidak boleh lebih dari 1000 cc, karena pengambilan cairan pleura dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang banyak dapat menimbulkan edema paru yang ditandai dengan batuk dan sesak.
Kerugian thorakosentesis adalah:
a.       Dapat menyebabkan kehilangan protein yang berada dalam cairan pleura.
b.      Dapat menimbulkan infeksi di rongga pleura.
c.       Dapat terjadi pneumothoraks.
2.9 Asuhan Keperawatan Klien Dengan Efusi Pleura
Diagnosa keperawatan
1.      Ketidakefektifan pola pernafasan yang berhubungan denagn menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura.
2.      Ketidakefektifan bersihnya jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi mukus yang kental, kelemahan, upaya batuk buruk, dan edema trakheal/faringel.
3.      Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan penurunan kemampuan ekspansi paru dan kerusakan membran alveolar kapiler.
4.      Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen.
5.      Gangguan ADL (activity daily living) yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum dan keletihan sekunder akibat adanya sesak nafas.
6.      Cemas yang berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bertnafas).
7.      Gangguan pola tidur dan istirahat yang berhubungan dengan batuk yang menetap dan sesak napas serta perubahan suasana lingkungan.
8.      Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan.
Rencana Intervensi
Ketidakefektifan pola pernafasan yang berhubungan dengan menurunya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura.
Tujuan:
Dalam waktu 2x24 jam setelah diberikan intervensi klien mampu mempertahankan fungsi paru secara normal.
Kriteria evaluasi:
Irama, frekuensi, dan kedalaman pernafasan berada dalam batas normal, pada pemeriksaan rontgen thoraks tidak ditemukan adanya akumulasi cairan, dan bunyi nafas terdengar jelas.
Rencana intervensi
Rasional
Identifikasi faktor penyebab.
Dengan mengidentifikasi penyebab, kita dapat menentukan jenis efusi pleura sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat.
Kaji kualitas, frekuensi, dan kedalaman pernafasan, serta melaporkan setiap perubahan yang terjadi.
Dengan mengkaji kualitas, frekuensi, dan kedalaman pernafasan, kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi klien.
Baringkan klien dalam posisi yang nyaman, dalam posisi duduk, dengan kepala tempat tidur di tinggikan 60-90ᵒ atau dimiringkan kearah sisi yang sakit.
Penurunan diafragma dapat memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal.
Miring ke arah sisi yang sakit dapat menghindari efek penekanan gravitasi cairan sehingga ekspansi dapat maksimal.
Observasi tanda-tanda vital (nadi dan pernafasan).
Peningkatan frekuensi nafas dan takikardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru.
Lakukan auskultasi suara nafas setiap 2-4 jam.
Auskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas pada bagian paru.
Bantu dan ajarkan klien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif.
Menekan daerah yang nyeri ketika batuk atau nafas dalam.
Penekana otot-otot dada serta abdomen membuat batuk lebih efektif.
Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian O2 dan obat-obatan serta foto thoraks.
Pemberian O2 dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat hipoksia.
Kolaborasi untuk tindakan thorakosentesis
Tindakan thorakosentesis atau fungsi pleura bertujuan untuk menghilangkan sesak nafas yang disebabkan oleh akumulasi cairan dalam rongga pleura.


Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi mukus yang kental, klemahan, upaya batuk buruk, dan edema trakeal/faringeal.
Tujuan:
Dalam waktu 2x24 jam setelah diberikan intervensi, bersihan jalan nafas kembali efektif.
Kriteria evaluasi:
-          Klien mampu melakukan batuk efektif
-          Pernafasan klien normal (16-20 x /menit) tanpa ada penggunaan otot bantu nafas. Bunyi nafas normal, Rh -/- dan pergerakan pernafasan normal.
Rencana intervensi
Rasional
Kaji fungsi pernafasan (bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman, dan penggunaan otot bantu nafas).
Penurunan bunyi nafas menunjukan atelektasis, ronkhi menunjukan akumulasi sekret dan ketidakefektifan pengeluaran sekresi yang selanjutnya dapat menimbulkan penggunaan otot bantu nafas dan peningkatan kerja pernafasan.
Kaji kemampuan mengeluarkan sekresi, catat karakter dan volume sputum.
Pengeluaran akan sulit bila sekret sangat kental (efek infeksi dan hidrasi yang tidak adekuat).
Berikan posisi semiflowler/flowler tinggi dan bantu klien latihan nafas dalam dan batuk efektif.
Posisi flowler memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya bernafas. Ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret dan jalan nafas besar untuk dikeluarkan.
Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500 ml /hari kecuali tidak di indikasikan.
Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan sekret dan mengefektifkan pembersihan jalan nafas.
Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, bila perlu lakukan pengisapan (suction).
Mencegah obstruksi dan aspirasi. Pengisapan diperlukan bila klien tidak mampu mengeluarkan sekret. Eliminasi lendir dengan suction sebaiknya dilakukan dalam jangaka waktu kurang dari 10 menit, dengan pengawasan efek samping suction.
Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi:
Obat antibiotik
Pengobatan antibiotik yang ideal adalah dengan adanya dasar dari tes uji resistensi kuman terhadap jenis antibiotik ssehingga lebih mudah mengobati pneumonia.
Agen mukolitik
Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan sekret paru untuk memudahkan pembersihan.
Brokodilator: jenis aminofilin via intravena.
Bronkodilator meningkatkan dameter lumen percabangan trakheobronkhial sehingga menurunkan tahanan terhadap aliran udara.
Kortikosteroid
Kortikosteroid berguna pada hipoksemia denga keterlibatan luas dan bila rekasi implamasi mengancam kehidupan.


DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer Arif.1999.KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN.Media Aesculapius:Jakarta
Suyono Slamet.2001.BUKU AJAR ILMU PENYAKIT DALAM.Balai Penerbit FKUI:Jakarta
Guyton and Hall.2007.FISIOLOGI KEDOKTERAN Edisi 11.Penerbit Buku Kedokteran EGC:Jakarta