BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Setiap
manusia mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri. Koentjaraningrat (2005)
mengemukakan bahwa kebudayaan sedikitnya mempunyai tiga wujud, yaitu : wujud
kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma,
dan peraturan-peraturan, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas
kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan wujud kebudayaan sebagai
benda-benda hasil karya manusia.
Manusia
dalam menghadapi lingkungan senantiasa menggunakan berbagai model tingkah laku
yang selektif (selected behaviour) sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Pola
perilaku tersebut didasarkan pada sistem kebudayaan yang diperoleh dan
dikembangkan serta diwariskan secara turun temurun.
Pewarisan kebudayaan adalah proses pemindahan,
penerusan, pemilikan dan pemakaian kebudayaan dari generasi ke generasi secara
berkesinambungan. Pewarisan budaya bersifat vertikal artinya budaya diwariskan
dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya untuk digunakan, dan
selanjutnya diteruskan kepada generasi yang akan datang.
Melihat
bahwa konsep sehat itu sendiri dapat dilihat dari segi sosial, yaitu berkaitan
dengan kesehatan pada tingkat individual yang terjadi karena kondisi-kondisi
sosial, politik, ekonomi, serta budaya yang melingkupi individu tersebut. Untuk
sebuah kesehatan masyarakat menciptakan sebuah strategi adaptasi baru dalam
menghadapi penyakit. Strategi yang memaksa manusia untuk menaruh perhatian
utama pada pencegahan dan pengobatan penyakit. Dalam usahanya untuk
menanggulangi penyakit, manusia telah mengembangkan “suatu kompleks luas dari
pengetahuan, kepercayaan, teknik, peran, norma-norma, nilai-nilai, idiologi,
sikap, adat-istiadat, upacara-upacara dan lambang-lambang yang saling berkaitan
dan membentuk suatu sistem yang saling menguatkan dan saling membantu
(Anderson, 1980, dalam Badrujaman, 2008).
Maka
dalam makalah ini akan dibahas tentang hubungan antara ilmu social budaya
dengan kesehatan yang berguna untuk lebih mengetahui dan memahami hubungan
diantara keduanya.
1.2 Tujuan Penyusunan Makalah
1.
Untuk
Memenuhi tugas individu mata kuliah Ilmu Sosial Budaya
2.
Untuk
lebih memahami hubungan antara ilmu social budaya dengan kesehatan
3.
Untuk
Menambah pengetahuan tentang hubungan antara ilmu social budaya dan kesehatan
dengan sebuah kasus yang terjadi dimasyarakat saat ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hubungan Ilmu Sosial Budaya Dengan Kesehatan
Kata
“kebudayaan” berasal dari (bahasa sansekerta) buddhayah yang merupakan bentuk
jamak kata “buddhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai
“hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Menurut E.B Tylor
mendefinisikan kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain
kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia
sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan mencakup semuanya yang
didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan
terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang
normatif. Artinya mencakup segala cara-cara atau pola-pola berpikir, merasakan,
dan bertindak (Soekanto, 2006).
Setiap
manusia mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri. Koentjaraningrat (2005)
mengemukakan bahwa kebudayaan sedikitnya mempunyai tiga wujud, yaitu : wujud
kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma,
dan peraturan-peraturan, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas kelakuan
berpola dari manusia dalam masyarakat, dan wujud kebudayaan sebagai benda-benda
hasil karya manusia. Pola
perilaku kebudayaan itu sendiri didasarkan pada sistem kebudayaa
n
yang diperoleh dan dikembangkan serta diwariskan secara turun temurun.
Pewarisan
kebudayaan adalah proses pemindahan, penerusan, pemilikan dan pemakaian
kebudayaan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan. Pewarisan budaya
bersifat vertikal artinya budaya diwariskan dari generasi terdahulu kepada
generasi berikutnya untuk digunakan, dan selanjutnya diteruskan kepada generasi
yang akan datang.
Pewarisan kebudayaan dapat dilakukan melalui
enkulturasi dan sosialisasi. Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses
mempelajari dan menyesuaikan pikiran dan sikap individu dengan sistem nilai,
norma, adat, dan peraturan hidup dalam kebudayaannya. Proses enkulturasi
dimulai sejak dini, yaitu masa kanak-kanak, bermula dilingkungan keluarga,
teman sepermainan, dan masyarakat luas (Herimanto dan Winarno, 2008).
Perilaku
kesehatan seseorang sangat berkaitan dengan pengetahuan, kepercayaan, nilai,
dan norma dalam lingkungan sosialnya, berkaitan dengan terapi, pencegahan
penyakit (fisik, psikis, dan sosial) berdasarkan kebudayaan masing-masing
(Dumatubun, 2002). Selain dengan pengamalan perilaku dalam konteks budaya,
pengamalan perilaku setiap individu sangat erat kaitannya dengan “belief,
kepercayaan” sebagai bagian nilai budaya masyarakat bersangkutan (Ngatimin,
2005)
Nilai-nilai
sosial budaya memiliki arti penting bagi manusia dan masyarakat penganutnya.
Didalamnya tercakup segala sesuatu yang mengatur hidup mereka termasuk tatacara
mencari pengobatan bila sakit. Kekurangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu
kesehatan disertai pengalaman hidup sehari-hari yang diturunkan dari satu
generasi ke generasi berikutnya membuat mereka mencari pemecahan timbulnya
penyakit, penyebaran dan cara pengobatan menuju ke arah percaya akan adanya
pengaruh roh halus dan tahyul.
Perilaku
manusia dalam menghadapi masalah kesehatan merupakan suatu tingkah laku yang
selektif, terencana, dan tanda dalam suatu sistem kesehatan yang merupakan
bagian dari budaya masyarakat yang bersangkutan. Perilaku tersebut terpola
dalam kehidupan nilai sosial budaya yang ditujukan bagi masyarakat tersebut.
Perilaku merupakan tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan
sekelompok orang untuk kepentingan atau pemenuhan kebutuhan tertentu
berdasarkan pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma kelompok yang
bersangkutan. Kebudayaan kesehatan masyarakat membentuk, mengatur, dan
mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial dalam
memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan baik yang berupa upaya
mencegah
penyakit maupun menyembuhkan diri dari penyakit (Kalangi, 1994). Oleh karena
itu dalam memahami suatu masalah perilaku kesehatan harus dilihat dalam
hubungannya dengan kebudayaan, organisasi sosial, dan kepribadian
individu-individunya.
B. Contoh Kasus Sosial Budaya Yang
Berhubungan Dengan Kesehatan
-
KASUS
SOSIAL BUDAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN BAYI
Kesehatan anak sekarang ini sangan
memprihatinkan. Banyak sekali kasus anak-anak yang terkena penyakit tertentu
karena tidak tercukupi kebutuhan gizinya. Seperti banyak anak-anak di pelosok
desa yang orangtuanya hanya sekedar memberi kebutuhan gizi sekedarnya saja pada
anak mereka. Terutama mitos mengenai kesehatan anak, orang zaman dahulu
mempercayai bahwa jika melakukan sesuatu yang telah lama dilakukan oleh
pendahulunya maka mereka juga akan melakukan itu pada anak-anak mereka. Padahal
ini malah akan menjadi penghambat kesehatan anak. Sehingga anak mudah sekali
terserang penyakit.
Beberapa aspek budaya (mitos) yang berkembang
di masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan anak :
1. Jika rambut anak
anda basah maka anak anda akan masuk angin.
Seorang Pakar Kesehatan Jims Scars
mengatakan dari riset yang pernah dilakukannya di Inggris dimana setengah
kelompok anak dibiarkan berada dalam ruangan hangat sedangkan sisanya berada di
lorong dengan kondisi basah kuyup. Setelah beberapa jam, kelompok yang berada
di lorong tadi tidak mengalami flu. " Kedinginan belum tentu mempengaruhi
sistem kekebalan tubuh secara langsung".
2. Anak perlu makan ketika kedinginan dan meminum
banyak air ketika demam
Hal
yang seharusnya dilakukan adalah menjaga keseimbangan komposisi cairan tubuh .
Jika seseorang banyak cairan maka akan mudah terserang penyakit begitupun
sebaliknya.Meskipun demikian anak tidak perlu mengonsumsi minuman elektrolit
bila tidak mengalami dehidrasi ataupun diare.
3.
Anak
akan kehilangan 75% panas melalui kepala
Mitos ini berkembang karena keharusan bahwa
kepala bayi yang baru lahir ditutupi ketika cuaca dingin ataupun panas. Hal
tersebut dibenarkan karena kepala bayi memiliki
presentasi lebih besar daripada bagian tubuh yang lainnya. Tetapi saat beranjak
dewasa , keluarnya panas melalui kepala hanya10%, sisanya keluar melalui kaki,
lengan , dan tangan.
4.
Makanan
yang keluar dari mulut ibu yang terbaik bagi bayi
Suku Sasak di Lombok, para ibu nifas biasa
memberikan nasi pakpak (nasi yang telah dikunyah oleh ibunya terlebih dahulu )
kepada bayinya agar bayinya tumbuh sehat dan kuat . Mereka percaya bahwa apa
yang keluar dari mulut ibu merupakan yang terbaik untuk bayi.
C. ANALISIS
Dari beberapa
kasus yang berhubungan dengan kesehatan pada anak di atas dapat disimpulkan
bahwa di dalam masyarakat saat ini masih banyak kebudayaan-kebudayaan(mitos)
yang masih terus dipertahankan dan terus diwariskan kepada keturunanya,padahal
sudah banyak pakar-pakar yang meneliti kebiasaan itu sangat tidak baik bagi
kesehatan kita pada umumnya dan anak sendiri khususnya.
Kebudayaan-kebudayan
itu terus menerus diwariskan kepada keturunanya disebabkan kurangnya
sosialisasi kesehatan yang berhubungan dengan kebudayaan mereka itu,serta masih
susahnya masyarakat menerima dan meninggalkan kebiasaan itu membuat kita
sebagai petugas kesehatan menjadi perlu untuk lebih memahami kebudayaan yang
mereka percaya sehingga kita akan semakin mudah untuk menyadarkan masyarakat
bahwa kebiasaan mereka itu tidaklah bagus untuk kesehatan.
Dari
kasus yang meyakini bahwa jika rambut anak basah maka sianak akan masuk
angin,bisa di simpulkan kalau kebiasaan ini sudah tertanam di masyarakat jadi
jika anak yang baru lahir rambut sianak tidak boleh dibasahi maka akan membuat
si bayi masuk angin,padahal sudah ada pakar kesehatan yang meneliti kasus ini namun
masih kurang disosialisasikan kepada masyarakat sehingga sampai sekarang
kebiasaan itu masih di anut oleh masyarakat khusunya di daerah terpencil yang
jarang terjamah oleh para petugas kesehatan.
Begitu
juga kasus pada suku sas
ak
dilombok yang meyakini bahwa ibu memberi nasi yang telah dikunyah oleh ibunya
terlebih dahulu baru diberi kepada anaknya merupakan kebiasaan yang tidak baik
bagi kesehatan sianak,kita mengetahui bahwa dalam air ludah itu banyak
mengandung bakteri atau kuman yang membuat kesehatan terganggu.
Dengan
begitu sebagai calon petugas kesehatan sewajarnya dan sebaiknya kita mengetahui
kebiasaan-kebiasan buruk yang terdapat di masyarakat yang berhubungan dengan
kesehatan pada masyarakat itu sendiri,sehingga kita bisa membuat cara penganan
yang dpat di sosialisasikan kepada masyarakat hingg masyarakat akan sadar akan
yang mereka yakini selama ini merupakan hal yang dapat mengganggu kesehatan
mereka.
KESIMPULAN
DAN
SARAN
A. Kesimpulan
Setiap
manusia mempunyai kebudayaannya masing-masing,yang dalam menghadapi lingkungan
senantiasa menggunakan berbagai model tingkah laku yang selekti ( selected
behavioral) sesuai dengan tantangan yang dihadapi.Kebudayaan yang memiliki
system kebudayaan yang diperoleh dan dikembangkan serta diwarisakan secara
turun temurun.Kebudayaan diwariskan secara vertical yakni budaya diwarisakan
dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya untuk digunakan,dan
selanjutnya diteruskan ke generasi berikutnya. Sedangkan Konsep sehat itu dapat
dilihat dari segi sosial, yaitu berkaitan dengan kesehatan pada tingkat
individual yang terjadi karena kondisi-kondisi sosial, politik, ekonomi, serta
budaya yang melingkupi individu tersebut. Perilaku kesehatan seseorang sanga
t
berkaitan dengan pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma dalam lingkungan
sosialnya, berkaitan dengan terapi, pencegahan penyakit (fisik, psikis, dan
sosial) berdasarkan kebudayaan masing-masing (Dumatubun, 2002).Maka dari itu
kita sebagai petugas kesehatan harus selalu siap dalam membantu masyarakat
dalam memperoleh pengetahuan-pengetahuan kesehatan yang berkaitan dengan
kebudayaan pada suatu masyarakat,agar kehidupan yang kita inginkan bisa
dimiliki oleh kita semua.
B. Saran
Sebaiknya
sebagai seorang yang akan menjadi bagian dari petugas kesehatan,kita sudah
mulai mengetahui cara mengatasi suatu masalah yang berhubungan dengan
kebudayaan-kebudayaan seorang pasien,serta mampu dalam mencari cara untuk
masalah-masalah yang ada pada masyarakat yang sudah barang tentu masalah
tersebut berkaitan dengan masalah social budaya dan kesehatan
DAFTAR
PUSTAKA
http://tatikbahar.blogspot.com/2011/02/hubungan-aspek-sosial-budaya-dan.html
http://catatancalonbidan.multiply.com/journal/item/6/Aspek_Sosial_Budaya_Dalam_Pembangunan_Kesehatan
http://yohanamarina.blogspot.com/2010/11/aspek-sosial-budaya-berkaitan-dengan.html