Selasa, 10 April 2012


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap manusia mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri. Koentjaraningrat (2005) mengemukakan bahwa kebudayaan sedikitnya mempunyai tiga wujud, yaitu : wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma, dan peraturan-peraturan, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Manusia dalam menghadapi lingkungan senantiasa menggunakan berbagai model tingkah laku yang selektif (selected behaviour) sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Pola perilaku tersebut didasarkan pada sistem kebudayaan yang diperoleh dan dikembangkan serta diwariskan secara turun temurun.

 Pewarisan kebudayaan adalah proses pemindahan, penerusan, pemilikan dan pemakaian kebudayaan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan. Pewarisan budaya bersifat vertikal artinya budaya diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya untuk digunakan, dan selanjutnya diteruskan kepada generasi yang akan datang.

Melihat bahwa konsep sehat itu sendiri dapat dilihat dari segi sosial, yaitu berkaitan dengan kesehatan pada tingkat individual yang terjadi karena kondisi-kondisi sosial, politik, ekonomi, serta budaya yang melingkupi individu tersebut. Untuk sebuah kesehatan masyarakat menciptakan sebuah strategi adaptasi baru dalam menghadapi penyakit. Strategi yang memaksa manusia untuk menaruh perhatian utama pada pencegahan dan pengobatan penyakit. Dalam usahanya untuk menanggulangi penyakit, manusia telah mengembangkan “suatu kompleks luas dari pengetahuan, kepercayaan, teknik, peran, norma-norma, nilai-nilai, idiologi, sikap, adat-istiadat, upacara-upacara dan lambang-lambang yang saling berkaitan dan membentuk suatu sistem yang saling menguatkan dan saling membantu (Anderson, 1980, dalam Badrujaman, 2008).

Maka dalam makalah ini akan dibahas tentang hubungan antara ilmu social budaya dengan kesehatan yang berguna untuk lebih mengetahui dan memahami hubungan diantara keduanya.




1.2 Tujuan Penyusunan Makalah

1.     Untuk Memenuhi tugas individu mata kuliah Ilmu Sosial Budaya
2.     Untuk lebih memahami hubungan antara ilmu social budaya dengan kesehatan
3.     Untuk Menambah pengetahuan tentang hubungan antara ilmu social budaya dan kesehatan dengan sebuah kasus yang terjadi dimasyarakat saat ini.




































BAB II
PEMBAHASAN



A.  Hubungan Ilmu Sosial Budaya Dengan Kesehatan

Kata “kebudayaan” berasal dari (bahasa sansekerta) buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Menurut E.B Tylor mendefinisikan kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan mencakup semuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif. Artinya mencakup segala cara-cara atau pola-pola berpikir, merasakan, dan bertindak (Soekanto, 2006).
Setiap manusia mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri. Koentjaraningrat (2005) mengemukakan bahwa kebudayaan sedikitnya mempunyai tiga wujud, yaitu : wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma, dan peraturan-peraturan, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Pola perilaku kebudayaan itu sendiri didasarkan pada sistem kebudayaa n yang diperoleh dan dikembangkan serta diwariskan secara turun temurun.
Pewarisan kebudayaan adalah proses pemindahan, penerusan, pemilikan dan pemakaian kebudayaan dari generasi ke generasi secara berkesinambungan. Pewarisan budaya bersifat vertikal artinya budaya diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya untuk digunakan, dan selanjutnya diteruskan kepada generasi yang akan datang.
 Pewarisan kebudayaan dapat dilakukan melalui enkulturasi dan sosialisasi. Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses mempelajari dan menyesuaikan pikiran dan sikap individu dengan sistem nilai, norma, adat, dan peraturan hidup dalam kebudayaannya. Proses enkulturasi dimulai sejak dini, yaitu masa kanak-kanak, bermula dilingkungan keluarga, teman sepermainan, dan masyarakat luas (Herimanto dan Winarno, 2008).
Perilaku kesehatan seseorang sangat berkaitan dengan pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma dalam lingkungan sosialnya, berkaitan dengan terapi, pencegahan penyakit (fisik, psikis, dan sosial) berdasarkan kebudayaan masing-masing (Dumatubun, 2002). Selain dengan pengamalan perilaku dalam konteks budaya, pengamalan perilaku setiap individu sangat erat kaitannya dengan “belief, kepercayaan” sebagai bagian nilai budaya masyarakat bersangkutan (Ngatimin, 2005)
Nilai-nilai sosial budaya memiliki arti penting bagi manusia dan masyarakat penganutnya. Didalamnya tercakup segala sesuatu yang mengatur hidup mereka termasuk tatacara mencari pengobatan bila sakit. Kekurangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu kesehatan disertai pengalaman hidup sehari-hari yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya membuat mereka mencari pemecahan timbulnya penyakit, penyebaran dan cara pengobatan menuju ke arah percaya akan adanya pengaruh roh halus dan tahyul.

Perilaku manusia dalam menghadapi masalah kesehatan merupakan suatu tingkah laku yang selektif, terencana, dan tanda dalam suatu sistem kesehatan yang merupakan bagian dari budaya masyarakat yang bersangkutan. Perilaku tersebut terpola dalam kehidupan nilai sosial budaya yang ditujukan bagi masyarakat tersebut. Perilaku merupakan tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan sekelompok orang untuk kepentingan atau pemenuhan kebutuhan tertentu berdasarkan pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma kelompok yang bersangkutan. Kebudayaan kesehatan masyarakat membentuk, mengatur, dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial dalam memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan baik yang berupa upaya mencegah penyakit maupun menyembuhkan diri dari penyakit (Kalangi, 1994). Oleh karena itu dalam memahami suatu masalah perilaku kesehatan harus dilihat dalam hubungannya dengan kebudayaan, organisasi sosial, dan kepribadian individu-individunya.

B.  Contoh Kasus Sosial Budaya Yang Berhubungan Dengan Kesehatan

-       KASUS SOSIAL BUDAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN BAYI

            Kesehatan anak sekarang ini sangan memprihatinkan. Banyak sekali kasus anak-anak yang terkena penyakit tertentu karena tidak tercukupi kebutuhan gizinya. Seperti banyak anak-anak di pelosok desa yang orangtuanya hanya sekedar memberi kebutuhan gizi sekedarnya saja pada anak mereka. Terutama mitos mengenai kesehatan anak, orang zaman dahulu mempercayai bahwa jika melakukan sesuatu yang telah lama dilakukan oleh pendahulunya maka mereka juga akan melakukan itu pada anak-anak mereka. Padahal ini malah akan menjadi penghambat kesehatan anak. Sehingga anak mudah sekali terserang penyakit.



 Beberapa aspek budaya (mitos) yang berkembang di masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan anak :

1.  Jika rambut anak anda basah maka anak anda akan masuk angin.

          Seorang Pakar Kesehatan Jims Scars mengatakan dari riset yang pernah dilakukannya di Inggris dimana setengah kelompok anak dibiarkan berada dalam ruangan hangat sedangkan sisanya berada di lorong dengan kondisi basah kuyup. Setelah beberapa jam, kelompok yang berada di lorong tadi tidak mengalami flu. " Kedinginan belum tentu mempengaruhi sistem kekebalan tubuh secara langsung".

2.   Anak perlu makan ketika kedinginan dan meminum banyak air ketika demam

Hal yang seharusnya dilakukan adalah menjaga keseimbangan komposisi cairan tubuh . Jika seseorang banyak cairan maka akan mudah terserang penyakit begitupun sebaliknya.Meskipun demikian anak tidak perlu mengonsumsi minuman elektrolit bila tidak mengalami dehidrasi ataupun diare.
3.     Anak akan kehilangan 75% panas melalui kepala

 Mitos ini berkembang karena keharusan bahwa kepala bayi yang baru lahir ditutupi ketika cuaca dingin ataupun panas. Hal tersebut dibenarkan karena kepala bayi memiliki presentasi lebih besar daripada bagian tubuh yang lainnya. Tetapi saat beranjak dewasa , keluarnya panas melalui kepala hanya10%, sisanya keluar melalui kaki, lengan , dan tangan.



4.     Makanan yang keluar dari mulut ibu yang terbaik bagi bayi

 Suku Sasak di Lombok, para ibu nifas biasa memberikan nasi pakpak (nasi yang telah dikunyah oleh ibunya terlebih dahulu ) kepada bayinya agar bayinya tumbuh sehat dan kuat . Mereka percaya bahwa apa yang keluar dari mulut ibu merupakan yang terbaik untuk bayi.









C.  ANALISIS

Dari beberapa kasus yang berhubungan dengan kesehatan pada anak di atas dapat disimpulkan bahwa di dalam masyarakat saat ini masih banyak kebudayaan-kebudayaan(mitos) yang masih terus dipertahankan dan terus diwariskan kepada keturunanya,padahal sudah banyak pakar-pakar yang meneliti kebiasaan itu sangat tidak baik bagi kesehatan kita pada umumnya dan anak sendiri khususnya.

Kebudayaan-kebudayan itu terus menerus diwariskan kepada keturunanya disebabkan kurangnya sosialisasi kesehatan yang berhubungan dengan kebudayaan mereka itu,serta masih susahnya masyarakat menerima dan meninggalkan kebiasaan itu membuat kita sebagai petugas kesehatan menjadi perlu untuk lebih memahami kebudayaan yang mereka percaya sehingga kita akan semakin mudah untuk menyadarkan masyarakat bahwa kebiasaan mereka itu tidaklah bagus untuk kesehatan.

Dari kasus yang meyakini bahwa jika rambut anak basah maka sianak akan masuk angin,bisa di simpulkan kalau kebiasaan ini sudah tertanam di masyarakat jadi jika anak yang baru lahir rambut sianak tidak boleh dibasahi maka akan membuat si bayi masuk angin,padahal sudah ada pakar kesehatan yang meneliti kasus ini namun masih kurang disosialisasikan kepada masyarakat sehingga sampai sekarang kebiasaan itu masih di anut oleh masyarakat khusunya di daerah terpencil yang jarang terjamah oleh para petugas kesehatan.
Begitu juga kasus pada suku sas ak dilombok yang meyakini bahwa ibu memberi nasi yang telah dikunyah oleh ibunya terlebih dahulu baru diberi kepada anaknya merupakan kebiasaan yang tidak baik bagi kesehatan sianak,kita mengetahui bahwa dalam air ludah itu banyak mengandung bakteri atau kuman yang membuat kesehatan terganggu.
Dengan begitu sebagai calon petugas kesehatan sewajarnya dan sebaiknya kita mengetahui kebiasaan-kebiasan buruk yang terdapat di masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan pada masyarakat itu sendiri,sehingga kita bisa membuat cara penganan yang dpat di sosialisasikan kepada masyarakat hingg masyarakat akan sadar akan yang mereka yakini selama ini merupakan hal yang dapat mengganggu kesehatan mereka.


KESIMPULAN
DAN SARAN

A.  Kesimpulan

Setiap manusia mempunyai kebudayaannya masing-masing,yang dalam menghadapi lingkungan senantiasa menggunakan berbagai model tingkah laku yang selekti ( selected behavioral) sesuai dengan tantangan yang dihadapi.Kebudayaan yang memiliki system kebudayaan yang diperoleh dan dikembangkan serta diwarisakan secara turun temurun.Kebudayaan diwariskan secara vertical yakni budaya diwarisakan dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya untuk digunakan,dan selanjutnya diteruskan ke generasi berikutnya. Sedangkan Konsep sehat itu dapat dilihat dari segi sosial, yaitu berkaitan dengan kesehatan pada tingkat individual yang terjadi karena kondisi-kondisi sosial, politik, ekonomi, serta budaya yang melingkupi individu tersebut. Perilaku kesehatan seseorang sanga t berkaitan dengan pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma dalam lingkungan sosialnya, berkaitan dengan terapi, pencegahan penyakit (fisik, psikis, dan sosial) berdasarkan kebudayaan masing-masing (Dumatubun, 2002).Maka dari itu kita sebagai petugas kesehatan harus selalu siap dalam membantu masyarakat dalam memperoleh pengetahuan-pengetahuan kesehatan yang berkaitan dengan kebudayaan pada suatu masyarakat,agar kehidupan yang kita inginkan bisa dimiliki oleh kita semua.

B.  Saran

Sebaiknya sebagai seorang yang akan menjadi bagian dari petugas kesehatan,kita sudah mulai mengetahui cara mengatasi suatu masalah yang berhubungan dengan kebudayaan-kebudayaan seorang pasien,serta mampu dalam mencari cara untuk masalah-masalah yang ada pada masyarakat yang sudah barang tentu masalah tersebut berkaitan dengan masalah social budaya dan kesehatan
DAFTAR PUSTAKA


http://tatikbahar.blogspot.com/2011/02/hubungan-aspek-sosial-budaya-dan.html
http://catatancalonbidan.multiply.com/journal/item/6/Aspek_Sosial_Budaya_Dalam_Pembangunan_Kesehatan
http://yohanamarina.blogspot.com/2010/11/aspek-sosial-budaya-berkaitan-dengan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar