Selasa, 10 April 2012


BAB I
PENDAHULUAN

1.1                  Latar Belakang

Katarak merupakan penyebab kebutaan nomor satu di dunia. Indonesia memiliki angka penderita katarak tertinggi di Asia Tenggara. Dari sekitar 234 juta penduduk, 1,5 persen atau lebih dari tiga juta orang menderita katarak. Sebagian besar penderita katarak adalah lansia berusia 60 tahun ke atas. Lansia yang mengalami kebutaan karena katarak tidak bisa mandiri dan bergantung pada orang yang lebih muda untuk mengurus dirinya.
Berdasarkan survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun 1993-1996, menunjukkan angka kebutaan di Indonesia sebesar 1,5%, dengan penyebab utama adalah katarak (0,78%); glaukoma (0,20%); kelainan refraksi (0,14%); dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan lanjut usia (0,38%).
Dibandingkan dengan negara-negara di regional Asia Tenggara, angka kebutaan di Indonesia adalah yang tertinggi (Bangladesh 1%, India 0,7%, Thailand 0,3%). Sedangkan insiden katarak 0,1% (210.000 orang/tahun), sedangkan operasi mata yang dapat dilakukan lebih kurang 80.000 orang/ tahun. Akibatnya timbul backlog (penumpukan penderita) katarak yang cukup tinggi. Penumpukan ini antara lain disebabkan oleh daya jangkau pelayanan operasi yang masih rendah, kurangnya pengetahuan masyarakat, tingginya biaya operasi, serta ketersediaan tenaga dan fasilitas pelayan kesehatan mata yang masih terbatas.
Maka dari itu kami terdorong untuk menyusun makalah ini,sehingga dapat menambah pengetahuan kita tentang insiden katarak itu sendiri.

1.2                  Tujuan Penulisan
1.Tujuan Umum
·         Mahasiswa mengetahui gambaran secara umum tentang asuhan keperawatan pada klien dengan katarak.
2.Tujuan Khusus
·         Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dengan katarak.
·         Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada klien dengan katarak.
·         Mahasiswa mampu menyusun intervensi keperawatan pada klien dengan katarak.
·         Mahasiswa mampu menerapkan implementasi keperawatan pada klien dengan katarak.


BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1               Defenisi
Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih. Biasanya terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran (Brunner & Suddarth,2001).
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau akibat kedua-duanya yang biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif (Mansjoer,2000).
Katarak adalah terjadinya opasitas secara progresif pada lensa atau kapsul lensa, umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang yang lebih dari 65 tahun (Doenges,2000).
2.2               Klasifikasi
Katarak dapat diklasifikasikan menjadi :
1.      Katarak Kongenital
Katarak kongenital adalah kekeruhan pada lensa yang timbul pada saat pembentukan lensa. Kekeruhan sudah terdapat pada waktu bayi lahir. Katarak ini sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita rubella, diabetes mellitus, toksoplasmosis, hipoparatiroidisme, dan galaktosemia.
2.      Katarak Senile.
Katarak senile ini adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun (Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed 3). Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui secara pasti. Katarak senile ini jenis katarak yang sering ditemukan dengan gejala pada umumnya berupa distorsi penglihatan yang semakin kabur pada stadium insipiens pembentukkan katarak, disertai penglihatan jauh makin kabur. Penglihatan dekat mungkin sedikit membaik, sehingga pasien dapat membaca lebih baik tanpa kaca mata (second sight).
3.      Katarak Juvenile.
Kekeruhan lensa yang terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa sehingga biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft carahast. Mulai terbentuknya pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital.
4.      Katarak Komplikata.
Katarak jenis ini terjadi sekunder atau sebagai komplikasi dari penyakit lain. Penyebab katarak jenis ini adalah gangguan okuler, penyakit sistemik dan trauma.

2.3               Etiologi
Beberapa pandangan teoritis oleh beberapa ahli tentang penjabaran penyebab terjadinya penyakit (etiologi) katarak :
a)      Penyebab dari katarak adalah usia lanjut (senile) tapi dapat terjadi secara kongenital akibat infeksi virus dimasa pertumbuhan janin, genetik, dan gangguan perkembangan, kelainan sistemik, atau metabolik, seperti diabetes melitus, galaktosemi, atau distrofi mekanik, traumatik: terapi kortikosteroid, sistemik, rokok, dan konsumsi alkohol meningkatkan resiko katarak (Mansjoer,2000).
b)      Penyebab utama katarak adalah penuaan. Anak dapat menerima katarak yang biasanya merupakan penyakit yang sedang diturunkan, peradangan dalam kehamilan. Faktor lain yaitu diabetes mellitus dan obat tertentu, sinar UV B dari cahaya matahari, efek racun, rokok, dan alkohol, gizi kurang vitamin E dan radang menahun didalam bola mata, serta adanya cidera mata (Ilyas,1997).
c)      Katarak terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran (katarak kongenital) dapat juga berhubungan dengan trauma mata tajam/tumpul, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, penyakit sistemis, seperti dibetes melitus atau hiperparatiroidisme, pemajanan radiasi, pemajanan sinar matahari (sinar ultraviolet) atau kelainan mata lain seperti uveitis anterior (Smeltzer,2002).

2.4               Patofisiologi















2.5               Manifestasi Klinik
Biasanya gejala berupa keluhan penurunan tajam penglihatan secara progresif (seperti rabun jauh memburuk secara progresif). Penglihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih, sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif (-).
Gejala umum gangguan katarak meliputi :
1.      Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
2.      Peka terhadap sinar atau cahaya.
3.      Dapat melihat doubel pada satu mata.
4.      Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
5.      Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
2.6               Komplikasi
1.      Glaukoma
2.      Infeksi pasca operasi
3.      Perdarahan
4.      Edema
2.7               Pemeriksaan Diagnostik
1.      Kartu mata Snellen/mesin telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan).
2.      Lapang penglihatan: penurunan mungkin disebabkan CSV, massa tumor pada hipofisis/otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.
3.      Pengukuran tonografi: mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25mmHg).
4.      Pengukuran gonioskopi: membantu membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glaukoma.
5.      Tes provokatif: digunakan dalam menentukan adanya/tipe glaucoma bila TIO normal atau hanya meningkat ringan.
6.      Pemeriksaan oftalmoskopi: mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisme. Dilatasi dan pemeriksaan belahan-lampu memastikan diagnose katarak.
7.      Darah lengkap, LED : menunjukkan anemia sistemik/infeksi.
8.      Tes toleransi glukosa/FBS: menentukan adanya/kontrol diabetes.




2.8               Penatalaksanaan
Tidak ada terapi obat untuk katarak. Jenis pembedahan untuk katarak mencakup extracapsular cataract extractive (ECCE) dan intracapsular cataract extractive (ICCE).
1.      Ekstracapsular Cataract Extractie (ECCE)
Korteks dan Nukleus diangkat, kapsul posterior ditinggalkan untuk mencegah prolaps vitreus, untuk melindungi retina dari sinar ultraviolet dan memberikan sokongan untuk implantasi lensa okuler. ECCE paling sering dilakukan karena memungkinkan dimasukkannya lensa intraokuler ke dalam kapsul yang tersisa. Setelah pembedahan diperlukan koreksi visus lebih lanjut. Visus biasanya pulih dalam dalam 3 bulan setelah pembedahan. Teknik yang sering digunakan dalam ECCE adalah fakoemulsifikasi, jaringan dihancurkan dan debris diangkat melalui penghisapan (suction).
2.      Intracapsular Cataract Extractie (ICCE)
Pada pembedahan jenis ini lensa diangkat seluruhnya. Keuntungan dari prosedur adalah kemudahan proses ini dilakukan, sedangkan kerugiannya mata beresiko tinggi mengalami retinal detachment dan mengangkat struktur penyokong untuk penanaman lensa intraokuler. Salah satu teknik ICCE adalah menggunakan cryosurgery, lensa dibekukan dengan probe super dingin dan kemudian diangkat.


















BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1               Pengkajian
1.      Anamnesis
a.       Umur
Katarak bisa terjadi pada semua umur tetapi pada umumnya pada usia lanjut.
b.      Riwayat trauma
Trauma tembus ataupun tidak tembus dapat merusak kapsul mata.
c.       Riwayat pekerjaan
Pada pekerjaan laboratorium atau yang berhubungan dengan bahan kimia atau terpapar radioaktif/sinar-X.
d.      Riwayat penyakit/masalah kesehatan yang ada
Beberapa jenis katarak komplikata terjadi akibat penyakit mata yang lain dan penyakit sistemik.
e.       Riwayat penggunaan obat-obatan.
2.      Pemeriksaan Fisik
a.       Klien mengeluhkan penurunan pandangan bertahap dan tidak nyeri.
b.      Pandangan kabur, berkabut atau pandangan ganda.
c.       Klien juga melaporkan melihat glare/halo di sekitar sinar lampu saat berkendaraan di malam hari, kesulitan dengan pandangan malam, kesulitan untuk membaca, sering memerlukan perubahan kacamata dan gangguan yang menyilaukan serta penurunan pandangan pada cuaca cerah. Klien juga memberikan keluhan bahwa warna menjadi kabur atau tampak kekuningan atau kecokelatan. Perlu peningkatan cahaya untuk membaca.
d.      Jika klien mengalami kekeruhan sentral, klien mungkin melaporkan dapat melihat lebih baik pada cahaya suram daripada terang, karena katarak yang terjadi di tengah dan pada saat pupil dilatasi klien dapat melihat melalui daerah di sekitar kekeruhan.
e.       Jika nucleus lensa terkena, kemampuan refraksi mata (kemampuan memfokuskan bayangan pada retina) meningkat. Kemampuan ini disebut second sight, yang memungkinkan klien membaca tanpa lensa.



f.       Katarak hipermatur dapat membocorkan protein lensa ke bola mata, yang menyebabkan peningkatan. Tekanan intraokuler dan kemerahan pada mata
g.      Kaji visus, terdapat penurunan signifikan.
h.      Inspeksi dengan penlight menunjukkan pupil putih susu dan pada katarak lanjut terdapat area putih keabu-abuan di belakang pupil.

3.2               Diagnosa Keperawatan
1.      Pre Operatif
Kecemasan b/d kurang terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan pembedahan.
2.      Pasca Operatif
a.       Risiko tinggi terhadap cedera b/d peningkatan TIO, perdarahan intraokuler, kehilangan vitreous.
b.      Risiko tinggi terhadap infeksi b/d prosedur invasif (bedah pengangkatan katarak).

3.3               Intervensi Keperawatan
1.      Intervensi Pre Operatif
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan/kriteria evaluasi:
Intervensi
Rasional
1.
Kecemasan b/d kurang terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan pembedahan.
1.      Pasien mengungkapkan dan mendiskusikan rasa cemas/takutnya.
2.      Pasien tampak rileks tidak tegang dan melaporkan kecemasannya berkurang sampai pada tingkat dapat diatasi.
3.      Pasien dapat mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang pembedahan
1.      Kaji tingkat kecemasan pasien dan catat adanya tanda- tanda verbal dan nonverbal.
2.      Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan takutnya.
3.      Observasi tanda vital dan peningkatan respon fisik pasien.
1.      Derajat kecemasan akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima oleh individu.
2.      Mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana rasa takut dapat ditujukan.
3.      Mengetahui respon fisiologis yang ditimbulkan akibat kecemasan.
2.      Intervensi Pasca Operatif
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan/kriteria evaluasi:
Intervensi
Rasional
1.





















Risiko tinggi terhadap cedera b/d peningkatan TIO, perdarahan intraokuler, kehilangan vitreous.
















1.      Menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.
2.      Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.










1.      Diskusikan apa yang terjadi pada pascaoperasi tentang nyeri, pembatasan aktivitas, penampilan, balutan mata.
2.      Beri pasien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tak sakit sesuai keinginan.
3.      Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membongkok.
1.      Membantu mengurangi rasa takut dan meningkatkan kerja sama dalam pembatasan yang diperlukan.
2.      Istirahat hanya beberapa menit sampai beberapa jam pada bedah rawat jalan atau menginap semalam bila terjadi komplikasi.
3.      Menurunkan tekanan pada mata yang sakit, meminimalkan risiko perdarahan atau stress pada jahitan/jahitan terbuka.
2.




















Risiko tinggi terhadap infeksi b/d prosedur invasif (bedah pengangkatan katarak).

1.      Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen, eritema dan demam
2.      Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi










1.      Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/mengobati mata.
2.      Gunakan/tunjukkan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam ke luar dengan tisu basah/bola kapas untuk tiap usapan, ganti balutan dan masukan lensa kontak bila menggunakan.
3.      Tekankan pentingnya tidak menyentuh/menggaruk mata yang dioperasi.
1.      Menurunkan jumlah bakteri pada tangan, mencegah kontaminasi area operasi.
2.      Teknik aseptik menurunkan risiko penyebaran bakteri dan kontaminasi silang.
3.      Mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi.


















BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1               Kesimpulan
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau akibat kedua-duanya yang biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif (Mansjoer,2000).
Katarak dapat diklasifikasikan menjadi katarak kongenital, katarak senile, katarak juvenile dan katarak komplikata. Penyebab dari katarak adalah usia lanjut (senile) tapi dapat terjadi secara kongenital akibat infeksi virus dimasa pertumbuhan janin, genetik, dan gangguan perkembangan, kelainan sistemik, atau metabolik, seperti diabetes melitus, galaktosemi, atau distrofi mekanik, traumatik: terapi kortikosteroid, sistemik, rokok, dan konsumsi alkohol meningkatkan resiko katarak.
Gejala umum gangguan katarak meliputi penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek, peka terhadap sinar atau cahaya, dapat melihat doubel pada satu mata, memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca, lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
Komplikasi katarak adalah glaukoma, infeksi pasca operasi, perdarahan dan edema. Tidak ada terapi obat untuk katarak. Jenis pembedahan untuk katarak mencakup extracapsular cataract extractive (ECCE) dan intracapsular cataract extractive (ICCE).

4.2               Saran
Untuk menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan katarak sebaiknya perawat mengkaji masalah yang ada pada klien. Disamping itu, pengetahuan, sikap dan keterampilan perawat juga diperlukan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai rencana dan keadaan klien secara utuh, terencana dan sistematis.








DAFTAR PUSTAKA



Mansjoer, Arief. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 1. Jakarta; Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran UI
Smeltzer,Suzanne. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 3. Jakarta;
EGC
Istiqomah, Indriana. 2004. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata. Jakarta; EGC
Doengoes, Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta; EGC
Diunduh dari http://aangcoy13.blogspot.com/2012/03/askep-katarak-new.html pada tanggal 3 April 2012
Diunduh dari http://nnpetc.blogspot.com/2011/01/lp-katarak.html pada tanggal 3 April 2012

1 komentar: