Senin, 09 April 2012

Asuhan Kepearawatan Hernia


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Hernia merupakan salah satu gangguan pada sistem pencernaan, hernia inguinalis indirek adalah hernia yang melewati analus inguinalis interus yang terletak di sebelah lateral vase epigastrik inferior, menyusuri kanalis inguinalis dan keluar ke rongga perut melalui analus inguinalis eksternus. Hernia inguinalis direk adalah hernia yang melalui dinding inguinal posterior medial dari vase epigastrik inferior di daerah yang dibatasi segitiga Hasselbach.
Hernia terlihat sebagai suatu tonjolan yang hilang timbul lateral terhadap tuberkulum pubikum, tonjolan timbul apabila pasien menangis, mengejan, atau berdiri dan biasanya menghilang secara spontan bila pasien dalam keadaan istirahat atau terlentang.Insiden hernia pada populasi umum adalah 1%, dan pada bayi prematur 5%. Laki-laki paling sering terkena (85% kasus). Setengah dari kasus-kasus hernia inguinalis selama kanak-kanak terjadi pada bayi di bawah 6 bulan. Hernia pada sisi kanan lebih sering daripada sisi kiri (2: 1). 25% pasien menderita hernia bilateral. Sedangkan insiden tertinggi adalah pada masa bayi 9 lebih dari 50%), selebihnya terdapat pada anak-anak yang berusia kurang dari 5 tahun.
Oleh karena itu perlu kiranya mengetahui bagaimana penyakit tersebut sehingga dapat diputuskan tindakan secara tepat, apalagi insiden yang terjadi pada anak-anak, maka sangat diperlukan suatu tindakan secara dini dan tepat.

1.2              Identifikasi Masalah

Makalah  ini membahas tentang teori-teori hernia secara umum dan secara khusus (hernia inguinalis) dari pengertian, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, penatalaksanan medis dan keperawatan, komplikasi, resume keperawatan dari pengkajian, analisa data pasien, perumusan masalah prioritas masalah (intervensi), implementasi dan evaluasi. Resume keperawatan di bahas dalam pembahasan kasus dan yang terakhir adalah penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.

1.3              Manfaat Penulisan

a.      Memberikan referensi tambahan tentang Hernia Inguinalis
b.      Menambah Ilmu pengetahuan Tentang Hernia Inguinalis khusunya bagi perawat
c.       Menambah keragaman ilmu pengetahuan bagi dunia keperawatan umumnya,dan perawat khususnya
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1       Pengertian

Hernia adalah suatu penonjolan isi perut dari rongga yang normal melalui lubang congenital atau didapat (Junadi, dkk 1982).Hernia adalah defek dalam dinding abdomen yang memungkinkan isi abdomen (seperti peritoneum, lemak, usus, atau kandung kemih) memasuki defek tersebut sehingga timbul kantong berisikan materi abnormal (Tambayong, 2000).Hernia adalah prostrusi dari organ melalui lubang defektif yang didapat atau congenital pada dinding rongga yang secara normal berisi organ (Engram, 1999).
Hernia Inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inguinalis di atas kantong skrotum,  disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat congenital. (Betz, 2002)
Dari beberapa pengertian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa hernia inguinalis adalah suatu penonjolan keluar sebagian atau seluruh organ dalam abdomen ke bagian kantong terbuka (canal inguinalis) yang disebabkan karena penutupan tuba yang tidak lengkap antara abdomen dan skrotum.











2.2       Klasifikasi
Hernia inguinalis, terdiri dari 2 macam yaitu :
1.      Hernia inguinalis indirect atau disebut juga hernia inguinalis lateralis yaitu hernia yang terjadi melalui cincin inguinal dan mengikuti saluran spermatik melalui kanalis inguinalis (Lewis,SM, 2003).
2.      Hernia inguinalis direct yang disebut juga hernia inguinalis medialis yaitu hernia yang menonjol melalui dinding inguinal posterior di area yang mengalami kelemahan otot melalui trigonum hesselbach bukan melalui kanalis, biasanya terjadi pada lanjut usia (Ignatavicus,dkk 2004).
2.3       Etiologi

Menurut Black,J dkk (2002).Medical Surgical Nursing, edisi 4. Pensylvania: W.B Saunders, penyebab hernia inguinalis adalah :
1.      Kelemahan otot dinding abdomen.
a.       Kelemahan jaringan
b.      Adanya daerah yang luas diligamen inguinal
c.       Trauma
2.      Peningkatan tekanan intra abdominal.
a.       Obesitas
b.      Mengangkat benda berat
c.       Mengejan à Konstipasi
d.      Kehamilan
e.       Batuk kronik
f.       Hipertropi prostate
3.      Faktor resiko: kelainan congenital

2.4              Patofisiologi

Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batuk yang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organ-organ selalu selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah  penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.sehingga akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren (Oswari, E. 2000).












































2.5       Manifestasi Klinik

1.      Penonjolan di daerah inguinal
2.      Nyeri pada benjolan/bila terjadi strangulasi.
3.      Obstruksi usus yang ditandai dengan muntah, nyeri abdomen seperti kram dan distensi abdomen.
4.      Terdengar bising usus pada benjolan
5.      Kembung
6.      Perubahan pola eliminasi BAB
7.      Gelisah
8.      Dehidrasi
9.      Hernia biasanya terjadi/tampak di atas area yang terkena pada saat pasien berdiri atau mendorong.


2.6       Pemeriksaan Penunjang

1.      Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/obstruksi usus.
2.      Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit), peningkatan sel darah putih (Leukosit : >10.000– 18.000/mm3) dan ketidak seimbangan elektrolit.

2.7       Penatalaksanaan

1.      Konservatif :

a.       Istirahat di tempat tidur dan menaikkan bagian kaki, hernia ditekan secara perlahan menuju abdomen (reposisi), selanjutnya gunakan alat penyokong.
b.      Jika suatu operasi daya putih isi hernia diragukan, diberikan kompres hangat dan setelah 5 menit di evaluasi kembali.
c.       Celana penyangga
d.      Istirahat baring
e.       Pengobatan dengan pemberian obat penawar nyeri, misalnya Asetaminofen, antibiotic untuk membasmi infeksi, dan obat pelunak tinja untuk mencegah sembelit.
f.       Diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makan dengan gizi seimbang dan tinggi protein untuk mempercepat sembelit dan mengedan selama BAB, hindari kopi kopi, teh, coklat, cola, minuman beralkohol yang dapat memperburuk gejala-gejala.
2.      Pembedahan (Operatif) :
1.      Herniaplasty : memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang.
2.      Herniatomy : pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebas kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit ikat setinggi lalu dipotong.
3.      Herniorraphy : mengembalikan isi kantong hernia ke dalam abdomen dan menutup celah yang terbuka dengan menjahit pertemuan transversus internus dan muskulus ablikus internus abdominus ke ligamen inguinal.


































BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
           
3.1       Pengkajian
Menurut Engram (1999),  Tucker (1992), Betz (2002) pengkajian pada klien dengan hernia antara lain:
a.       Data Subyektif
Sebelum Operasi: Adanya benjolan diselangkangan/kemaluan, nyeri di daerah benjolan, mual, muntah, kembung, konstipasi, tidak nafsu makan, bayi menangis terus, pada saat bayi menangis/mengejan dan batuk-­batuk kuat timbul benjolan.
 Sesudah Operasi: Nyeri di daerah operasi, lemas, pusing, mual, kembung.
b.      Data Obyektif
Sebelum Operasi: Nyeri bila benjolan tersentuh, pucat, gelisah, spasme otot, demam, dehidrasi, terdengar bising usus pada benjolan.
Sesudah Operasi: Terdapat luka pada selangkangan, puasa, selaput mukosa mulut kering, anak/bayi rewel.
c.       Pemeriksaan penunjang
1.      Darah: Leukosit > 10.000 - 18.000 /mm3, serum elektrolit meningkat.
2.      X.ray, USG Abdomen.

3.2       Diagnosa Keperawatan

Menurut Engram (1999), Tucker (1992), Betz (2002) ditemukan diagnosa keperawatan sebagai berikut:
1.      Nyeri berhubungan dengan luka operasi.
2.      Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah  setelah pembedahan.
3.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.
4.      Risiko tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pada luka operasi.
5.      Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan dengan   kurang informasi.
6.      Potensial infeksi berhubungan dengan kontaminasi luka operasi terhadap mikroorganisme.



3.3       Perencanaan/Implementasi
  1.  Nyeri berhubungan dengan luka operasi.
Tujuan: Klien merasa nyaman dan terjadi penyembuhan luka
Kriteria Evaluasi: a. Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang. b. Terjadi penyembuhan pada luka. c. Keadaan umum sedang kesadaran komposmentis. d. Klien tampak rileks dan nyaman.
Intervensi : a. Kaji tingkat rasa nyaman nyeri skala nyeri 0-10. b. Identifikasi lokasi, lama, type pola nyeri. c. Anjurkan klien untuk melakukan tehnik relaksasi napas dalam. d. Gunakan ice bag untuk menurunkan pembengkakan. e. Kaji tanda-tanda vital tiap 8 jam.  f. Berikan analgesic sesuai program.
 2.    Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah setelah pembedahan.
Tujuan: Klien dapat menunjukkan tanda-tanda rehidrasi dan mempertahankan hidrasi yang adekuat.
Kriteria Evaluasi: a. Mual dan muntah tidak ada. b. Keseimbangan cairan dapat dipertahankan dalam batas normal yang ditandai dengan pengeluaran urine sesuai usia, capillary refill kurang dari 2 detik, turgor kulit elastis, membrane mukosa lembab. c. Intake dan output seimbang. d. Berat badan tidak menunjukkan penurunan.
Intervensi: a. Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam. b. Monitor pemberian infus. c. Beri minum dan makan secara bertahap. d. Monitor tanda-tanda dehidrasi. e. Monitor dan catat cairan masuk dan keluar. f. Timbang berat badan tiap hari. g. Catat dan informasikan ke dokter tentang muntahnya

     3.    Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.
Tujuan: Kulit klien tetap utuh
Kriteria Evaluasi: a. Klien tidak menunjukan tanda-tanda kerusakan kulit yang ditandai dengan kulit utuh, tidak lecet dan tidak merah. b. Luka operasi bersih, kering, tidak ada bengkak, tidak ada perdarahan.
Intervensi: a. Observasi keadaan luka operasi dari tanda­ tanda peradangan: demam, merah, bengkak dan keluar cairan. b. lakukan perawatan luka dengan teknik septik dan aseptik. c. Jaga kebersihan sekitar luka operasi. d. Beri makanan yang bergizi dan dukung pasien untuk makan. e. Libatkan keluarga untuk menjaga kebersihan luka operasi dan lingkungannya. f. ajarkan keluarga dalam perawatan luka operasi.
4.      Risiko Tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pada luka operasi.
Tujuan: Tidak terjadi perubahan suhu tubuh (hypertermi).
Kriteria Evaluasi: a.  Luka operasi bersih, kering, tidak bengkak. b. Tidak ada perdarahan.  c. Suhu dalam batas normal (36-37°C)
Intervensi: a. Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam. b. Beri kompres hangat. c. Monitor pemberian infus. d. Rawat luka operasi dengan tehnik steril. e. Jaga kebersihan luka operasi. f. Monitor dan catat cairan masuk dan keluar. g. Beri terapi antibiotik sesuai program medik.

5. Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan dengan kurang informasi.
Tujuan: Pengetahuan klien dan keluarga bertambah.
Kriteria Evaluasi: a. Klien dan keluarga mengerti tentang perawatan luka operasi, b. Dapat memelihara kebersihan luka operasi dan perawatannya c. Dapat memahami kegunaan pemeriksaan medis lanjutan.
Intervensi: a. Ajarkan kepada klien dan keluarga cara merawat luka operasi dan menjaga kebersihannya. b. Diskusikan tentang keinginan keluarga yang ingin diketahuinya. c. Beri kesempatan keluarga untuk bertanya. d. Jelaskan tentang perawatan dirumah, balutan jangan basah dan kotor.  e. Anjurkan untuk meneruskan pengobatan/minum obat secara teratur di rumah, dan kontrol kembali ke dokter.

6.  Potensial infeksi berhubungan dengan kontaminasi luka operasi terhadap mikroorganisme.
Tujuan: Infeksi tidak terjadi
Kriteria Evaluasi: a. Tidak ada tanda-tanda infeksi (merah, bengkak, sakit, panas) pada luka insisi dan tempat pemasangan infus dan kateter. b. Perban dan plester tampak bersih, kesadaran komposmentis, keadaan umum sedang. c. TTV dalam batas normal TD110-120/70-80mmHg, N80-84x/mnt, Suhu 36-37ºC. d. Hasil laboratorium leukosit dalam batas normal 4400-11300/ul
Intervensi : a. Catat atau kaji keadaan luka (jumlah, warna dan bau). b. Kaji tanda-tanda vital tiap 8 jam. c. Anjurkan klien untuk menekan luka saat batuk. d. Mengganti balutan atau melakukan perawatan luka, perawatan infus dan kateter dengan teknik aseptik dan antiseptik menggunakan betadin 10%. e. Berikan antibiotik sesuai program.
     








BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN


4.1           Kesimpulan

Ada banyak macam dan jenis hernia,tetapi yang sebenarnya pemberian nama pada setiap hernia dibuat menurut letaknya.Hernia yang belum parah dan benjolannya masih bisa dimasukkan kembali,tetapi hernia yang sudah parah dan terjepit oleh cincin hernia maka benjolannya tidak bisa dimasukkan kembali dan disebut dengan hernia INCARSERATA.

4.2      Saran
Berbagai macam penyakit yang sering kali muncul tanpa kita sadari,oleh karena itu segeralahperiksa ke dokter apabila ada benjolan,karena kemungkinan itu adalah hernia.
























DAFTAR PUSTAKA


Brunner & Suddarth, 2002, Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 1, EGC, Jakarta.

Barbara C. Lag, 1996, Keperawatan Medikal Bedah Bagian I dan 3, Yayasan TAPK Pengajaraan, Bandung.

Mansjoer, Arif dkk., 2001, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid I, Medica Aesculapius FKUI, Jakarta.

R. Syamsuhidayat & Wim de Jong, 2001, Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi, EGC, Jakarta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar